Google+ Followers

Minggu, 18 Maret 2012

Tantangan Guru di Abad 21

Secara konseptual guru sebagai tenaga profesional harus memenuhi berbagai persyaratan kompetensi untuk menjalankan tugas dan kewenangannya secara profesional, sementara kondisi riil di lapangan masih amat memperhatikan, baik secara kuantitas, kualitas maupun profesionalitas guru. Persoalan ini masih ditambah adanya berbagai tantangan ke depan yang masih kompleks di era global ini. Berikut ini diuraikan sejauh mana tantangan guru di masa depan sebagai wawasan dalam rangka menambah khasanah untuk dipergunakan sebagai pertimbangan dalam meningkatkan profesionalisme guru.


Sebagai seorang profesional, guru seharusnya memiliki kapasitas yang memadai untuk melakukan tugas membimbing, membina, dan mengarahkan peserta didik dalam menumbuhkan semangat keunggulan, motivasi belajar, dan memiliki kepribadian serta budi pekerti luhur yang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Namun emikian, kita semua mengetahui bahwa begitu banyak tantangan yang dihadapi oleh seorang guru dalam upaya untuk melaksanakan tugasnya secara profesional di masa datang, yaitu dalam menghadapi masyarakat abad 21.

A. Gambaran Masyarakat Abad 21

Untuk memberikan gambaran tentang tantangan guru yang prfeesional di masa depan, perlu melihat karakteristik masyarakat di era globalisasi dikaitkan dengan peran pendidikan. Menurut Tilaar (1999), setidaknya terdapat tiga karakteristik masyarakat di abad 21, yaitu: (1) masyarakat teknologi; (2) masyarakat terbuka; (3) masyarakat madani.

a. Masyarakat Teknologi

Masyarakat teknologi yang dimaksud adalah suatu masyarakat yang telah melek teknologi dan menggunakan berbagai aplikasi teknologi, sehingga dapat mengubah cara berfikir dan bertindak bahkan mengubah bentuk dan pola hidup manusia yang sama sekali berlainan dengan kehidupan sebelumnya. Kemajuan teknologi kkomunikasi telah mebuat jarak dan waktu semakin pendek dan cepat, sehingga seolah-olah dunia menjadi satu tanpa ada sekat yang membatasi bangsa-bangsa, negara-negara, bahkan pribadi-pribadi. Kemajuan teknologi dapat memajukan kehidupan manusia, tetapi dapat pula menghancurkan kebudayaan umat manusia. Untukitu, dalam mengiringi kemajuan teknologi tersebut diperlukan upaya penghayatan, di samping penguasaan teknologi itu sendiri.

Dalam maysarakat seperti itu, peran pendidikan sangat penting dan strategis, terutama dalam memberikan bimbingan, dorongan, semangat, dan fasilitas kepada masyarakat dan peserta didik untukmemperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan menggunakan teknologi. Selain itu, tidak kalah pentingnya adalah peran pendidikan dalam memberikan arahan dan bimbingan agar penguasaana teknologi tidak menjadi bumerang bagi masyarakat, yang disebabkan kurangnya penghayatan terhadap etika.

Pendidikan dapat menumbuhkan pemahaman etika yang benar, agar kehidupan manusia tidak terancam oleh karena kemajuan teknologi itu sendiri. Manakala pendidikan mengisyaratkan adanya keharusan peserta didik untuk menguasai teknologi, maka tentu tidak kalah pentingnya peran guru itu sendiri untuk lebih dulu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan teknologi terkini kepada peserta didiknya.
Penguasaan terhadap IPTEK memang harus diiringi dengan pemahaman etika yang benar agar moral bangsa kita tetap terjaga dengan baik sehingga tidak terjadi lagi perlanggaran2 etika yang terkait dengan teknologi.

b. Masyarakat Terbuka

Lahirnya teknologi komunikasi yang demikian maju, membuat dunia menjadi satu seolah tanpa sekat, sehingga komunikasi antar pribadi menjadi makin dekat dan hampir tanpa hambatan, yang pada akhirnya melahirkan masyarakat terbuka. Dalam masyarakat terbuka, antara bangsa satu dengan bangsa lain dapat saling mempengaruhi dalam berbagai hal, termasuk mempengaruhi budaya bangsa lain. Hal itu mengancam kehiudpan masyarakat lain oleh karena adanya kemungkinan penguasaan atau dominasi oleh mereka yang lebih kuat, yang berprestasi dan yang memilikimodal terhadap masyarakat yang lemah, tidak berdaya dan miskin.

Untuk itu, dalam masyarakat terbuka diperlukan manusia yang mampu mengembangkan kapasitasnya agar menjadi manusia dan bangsa yang kuat, ulet, kreatif, disiplin, dan berprestasi, sehingga tidak menjadi korban dan tertindas oleh zaman yang penuh dengan persaingan.

Setiap manusia mempunyai kesempatan yang tidak terbatas untuk belajar dan mengembangkan diri atau bahkan melalui kapasitasnya memberikan sumbangan kepada masyarakat lainnya, baik masyarakat lokal maupun masyarakat dunia. Tetapi sebaliknya, bila kapasitas sumber daya manusia itu tidak dikembangkan, maka akan menjadi manusia dan masyarakat yang lemah dan tidak berdaya, yang pada akhirnya akan menjadi boneka atau korban bagi mereka yang lebihkuat, lebih kreatif dan memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi. Peran pendidikan sangatlah penting untuk meningkatkan harkat dan martabat suatu masyarakat dan bangsa, agar tidak menjadi bangsa pelayan yang dapat diperintah bangsa lain. Sangat ironis bila bangsa kita yang besar ini tidak mampu bersaing dengan bangsa2 lain, yang hanya mengandalkan kuantitas tanpa kualitas, yang mngandalkan banyak sikil ketimbang skill ..tentu sudah saatnya bagi bangsa ini untuk mengirimkan tenaga2 ahli/profesional ke luar negeri dan bukan mengirimkan PRT/tenaga kasar/buruh ke luar negeri yang hanya bisa menjadi budak bagi bangsa2 lain.

c. Masyarakat Madani

Masyarakat madani merupakan wujud dari suatu masyarakat terbuka, di mana setiap individu mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan menggunakan teknologi, berkarya, berprestasi dan memberikan sesuatu sesuai dengankapasitasnya. Masayraakat madani tumbuh berkembang dalam suatu masyarakat yang saling hormat-menghormati, bukan atas dasar asal-usul atau keturunan, tetapi berdasarkan pada kemampuan individual, memiliki toleransi dan tanggungjawab terhadap kehiudpan pribadi maupun masyrakatnya, serta menjunjung tinggi rasa kebersamaan untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Masyarakat madani adalah masyarakat yang saling menghargai satu dengan yang lain, yang mengakui akan hak-hak asasi manusia, yang menghormati prestasi individual, dan masyarakat yang turut bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup dari masyarakatnya, termasuk nilai-nilai etis yang diyakini kebenarannya.

Masyarakat madani tumbuh dan berkembang bukan dengan sendirinya dan bukan tanpa upaya terencana, tetapi masyarakat yang dibangun melalui pendidikan. Kunci terwujudnya masyarakat madani adalah pendidikan, karena melalui pendidikan dapat dibangun sumberdaya yang berkualitas dengna kepribadian yang sesuai dengan budaya serta kesadaran individu hidup berdampingna untuk mencapai tujuan bersama.

B. Tantangan Guru Sebagai Tenaga Profesional

Berdasarkan paparan di atas, setidaknya kita dapat memperoleh gambaran tentang apa dan bagaimana karakteristik masyarakat pada abad 21 dan apa peran pendidikan pada masa yang akan datang serta tantangan bagi seorang guru untuk menyikapinya. Pendidikan pada dasarnya tidak terlepas dari peran penting guru sebagai tulang punggung dan penopang utama dalam proses penyelenggaraan pendidikan.

Tantangan guru profesional untuk menghadapi masyarakat abad 21 tersebut dapat dibedakan menjadi tantangna yang bersifat internal dan kesternal. Tantangan intenal adalah tantangan yang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa Indonesia, diantaranya penguatan nilai kesatuan dan pembinaan moral bangsa, pengembangan nilai-nilai demokrasi, pelaksanaan otonomi daerah, dan fenomena rendahnya mutu pendiidkan. Sementara tantangan eksternal adalah tantangan guru profesional dalam menghadapi abad 21 dan sebagai bagian dari masyarakat dunia di era global.

1. Tantangan Internal

a. Penguatan nilai kesatauan dan pembinaan moral bangsa

Krisis yang berkepanjangan memberi kesan keprihatinan yang dalam dan menimbulkan berbagai dampak yang tidak menguntungkan terhadap kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Hal itu terutama dapat dilihat mulai adanya gejala menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat, menurunnya rasa kebersamaan, lunturnya rasa hormat dengan orang tua, sering terjadinya benturan fisik antara peserta didik, dan mulai adanya indikasi tidak saling menghormati antara sesama teman, yang pada akhirnya dikhawatirkan dapat mengancam kesatuan dan persatuan sebagai bangsa.

Pendidikan berupaya menanamkan nilai-nilai moral kepada peserta didik dan tantangan nyata bagi guru adalah bagaimana seorang guru memilikikepribadian yang kuat dan matang untuk dapat menanamkan nilai-nilai moral dan etika serta meyakinkan peserta didik terhadap pentingnya rasa kesatuan sebagai bangsa. Rasa persatuan yang telah berhasil ditanam berarti bahwa seseorang merasa bangga menjadi bangsa Indonesia yang berarati pula bangsa terhadap kebudayaan Indoensia yang menjunjung tinggi etika dan nilai luhur untuk siap menjadi masyarakat abad 21 yang kuat dan dapat mewujudkan demokrasi dalam arti sebenarnya.

b. Pengembangan nilai-nilai demokrasi

Demokrasi dalam bidang pendidikan adalah membangun nilai-nilai demokratis, yaitu kesamaan hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang layak dan juga kewajiban yang sama bagi masyarakat untuk membangun pendidikan yang bermutu. Dalam pengertian ini, guru sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan itu sendiri mempunyai tantangan bagiamana membantu dan mengembangkan diri peserta didik menjadi manusia yang tekin, kreatif, kritis, dan produktif dan tidak sekedar menjadi manusia yang selalu mengekor seperti ‘bebek’ yang hanya menerima petunjuk dari atasan dalam mewujudkan pendidikan yang demokratis, perlu dilakukan berbagai penyesuaian dalam sistem pendidikan nasional.

Sejalan dengan itu, pemberlakuan otonomi daerah memberikan peluang melakukan berbagai perubahan dalam penataan sistem pendidikan yang pada hakekatnya adalah memberikan kesempatan lebih besar kepad adaerah dan sekolah untuk mengembangkan proses pendidikan yang bermutu sesuai dengan potensi yang dimilikinya, termasuk potensi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai bentuk untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan.

Pendidikan berbasis masyarakat dan manajemen berbasis sekolah merupakan perwujudan nyata dari demokrasi dan desentralisasi pendidikan yang bertujuan untuk lebih memberdayakan sekolah dan masyarakat dalam proses pendidikan demi mencapai prestasi sesuai kemampuannya. Guru memiliki peran strategis dalam rangka mewujudkan prestasi bagi peserta didiknya. Untuk itu, tantangan bagi guru dalam wacana desentralisasi pendidikan adalah bagaimana melakukan inovasi pembelajaran sehingga dapat membimbing dan menuntun peserta didik mencapai prestasi yang diharapkan.

c. Fenomena rendahnya mutu pendidikan

Berbagai hasil studi dan pengamatan terhadap mutu pendidikan pada berbagai negara menunjukkan bahwa secara makro mutu pendidikan di Indonesia masih rendah, dan bahkan secara nilai rata-rata di bawah peringkat negara Asean lainnya. Walaupun demikian, secara individual ada beberapa diantara peserta didik mampu menunjukkan prestasinya di lomba-lomba bertaraf internasional, seperti pada Olimpiade Fisika. Untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas, diperlukan proses pendidikan yang bermutu dan kunci utama dalam peningkatan mutu pendidikan adalah mutu guru. Proses pendidikan dalam masyarakat abad 21 adalah suatu interaksi antara guru dengan peserta didik sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat yang demokratis dan terbuka.

Masyarakat yang demikian menuntut adanya pelayanan yang profesional dari para pelakunya dan guru adalah seorang profesional dalam masyarakat seperti itu. Dengan kata lain, guru dituntut untuk berperlaku dan memiliki karakteristik profesional oleh karena tuntutan dan sifat pekerjaanya dan bersaing dengan profesi-profesi lainnya. Dalam masyarakat abad 21, hanya akan menerima seorang yang profesional dalam bidang pekerjaannya. Tantangan guru pada masyarakat abad 21 adalah bagaimana menjadi seorang guru yang profesional untuk membangun masyarakat yang mandiri, memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, berprestasi, saling menghormati atas dasar kemampuan individual, menjunjung tinggi rasa kebersamaan, dan mematuhi nilai-nilai hukum yang berlaku dan disepakati bersama.

2. Tantangan Eksternal

Kecenderungan kehidupan dalam era globalisasi adalah mempunyai dimensi domestik dan global, yaitu kehidupan dalam dunia yang terbuka dan seolah tanpa batas, tetapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. Dengan situasi kehidupan demikian, akan melahirkan tantangan dan peluang untuk meningkatkan taraf hidup bagi masyarakatnya, termasuk para guru yang profesional.

Kehidupan global yang terbuka, seakan-akan dunia seperti sebuah kampuang dengan ciri perdagangan bebas, kompetisi dan kerjasama yang saling menguntungkan, memerlukan manusia yang bermutu dan dapat bersaing dengan sehat. Dalam melakukan persaingan, diperlukan mutu individu yang kreatif dan inovatif. Kemampuan individu untuk bersaing seperti itu, hanya dapat dibentuk oleh suatu sistem pendidikan yang kondusif dan memiliki guru yang profesional dalam bidangnya.

Untuk itu, tantangan bagi guru profresional dalam menghadapi globalisasi adalah bagaimana guru yang mampu memberi bekal kepada peserta didik, selain ilmu pengetahuan dan teknologi, juga menanamkan sikap disiplin, kreatif, inovatif, dan kompetitif. Dengan demikian para sisiwa mempunyai bekal yang memadai, tidak hanya dalam hal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang relevan tetapi juga memiliki karakter dan kepribadian yang kuat sebagai bangsa Indonesia.

Aplikasi Strategi dan Model Pembelajaran PAKEM

Aplikasi Strategi dan Model Pembelajaran PAKEM
BENTUK KEGIATAN PEMBELAJARAN YANG DIHARAPKAN
• Berpusat pada peserta didik
• Mengembangkan kreativitas peserta didik
• Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan menantang
• Bermuatan nilai, etika, estetika dan logika
• Menjadikan pengalaman belajar yang beragam
Stategi PAKEM antara lain :
1. EVERYONE IS A TEACHER HERE (setiap murid sebagai guru)
2. WRITING IN THE HERE AND NOW (Menulis pengalaman secara langsung)
3. READING ALOUT (Strategi Membaca dengan Keras)
4. THE POWER OF TWO & FOUR (Menggabung 2 dan 4 Kekuatan)
5. INFORMATION SEARCH (Mencari Informasi)
6. POINT-COUNTERPOINT (Beradu pandangan sesuai perspektif)
7. READING GUIDE(Bacaan terbimbing)
8. ACTIVE DEBATE (Debat aktif)
9. INDEX CARD MATCH (Mencari jodoh kartu tanya jawab/isu sejenisnya)
10. JIGSAW LEARNING (Belajar melalui tukar delegasi antar kelompok)
11. ROLE PLAY (Bermain Peran)
12. DEBAT BERANTAI
13. LISTENING TEAM (Tim Pendengar)
14. TEAM QUIZ (Pertanyaan Kelompok)
15. SMALL GROUP DISCUSSION (diskusi kelompok kecil)
16. CARD SORT (menyortir kartu)
17. GALLERY WALK (Pameran berjalan)
18. MUSYKILAT AL-THULLAB (Problematika murid)-untuk bahasa arab
19. ISTINTAJIYAH (Pengambilan kesimpulan)-untuk bahasa arab
20. MUQARANAT AL-NASH (Perbandingan teks)-untuk bahasa arab

Aplikasi Praktis Strategi PAKEM
1. EVERYONE IS A TEACHER HERE (setiap murid sbg Guru)
• Bagikan kertas (card) kepada setiap siswa dan mintalah mereka untuk menuliskan sebuah pertanyaan tentang materi pelajaran yang telah atau sedang dipelajari, atau topik khusus yang ingin didiskusikan dalam kelas.
• Kumpulkan kertas-kertas tersebut, diaduk, dan bagikan kembali kepada masing-masing siswa. Kemudian putarkan dengan memberi skor dengan ketentuan pertanyaan dianggap berbobot (relevansi dan kualitas pertanyaan). Suruh siswa membaca pertanyaan di kertas masing-masing, sambil berpikir bagaimana jawabannya.
• Undang volunter (sukarelawan) untuk maju kedepan dan membacakan pertanyaan yang ada di tangan nya, serta memberikan respon ( jawaban / penjelasan ) atas pertanyaan tersebut. Kembangkan diskusi. . . .
• Berikan apresiasi (pujian/tdk menyepelekan) terhadap setiap jawaban agar termotivasi untuk tdk takut salah.

2.WRITING IN HERE AND NOW
(Menulis Pengalaman secara Langsung)
• Guru memilih jenis pengalaman yang diinginkan siswa. Bisa peristiwa masa lampau atau yang akan datang, dan menjelaskan tentang tujuan penulisan dengan cara merefleksikan pengalaman masing2 siswa..
• Guru memerintahkan peserta didik untuk menulis, saat sekarang, tentang pengalaman yang dipilih. Perintahkan mereka untuk memulai awal pengalaman dan menulis apa yang sedang mereka dan lainya lakukan dan rasakan. Guru menyuruh pseta didik untuk menulis sebanyak mungkin yang mereka inginkan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dan perasaan-perasaan yang dihasilkanya.
• Guru memberikan waktu yang cukup untuk menulis. Peserta didik seharusnya tidak merasa terburu-buru. Ketika mereka selesai, guru mengajak mereka untuk membacakan tentang refleksinya.
• Guru mendiskusikan hasil pengalaman peserta didik tersebut bersama-sama.
• Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.

3. READING ALOUD(Strategi Membaca dengan Keras)
• Guru memilih teks yang cukup menarik untuk dibaca dengan keras, misalnya tentang manasik haji. Guru hendaknya membatasi dengan suatu pilihan teks yang kurang dari 500 kata.
• Guru menjelaskan teks itu pada peserta didik secara singkat. Guru memperjelas poin-poin kunci atau masalah-masalah pokok yang dapat diangkat.
• Guru memilih teks yang cukup menarik untuk dibaca dengan keras, misalnya tentang manasik haji. Guru hendaknya membatasi dengan suatu pilihan teks yang kurang dari 500 kata.
• Guru menjelaskan teks itu pada peserta didik secara singkat. Guru memperjelas poin-poin kunci atau masalah-masalah pokok yang dapat diangkat.
• Guru dapat membuat diskusi-diskusi singkat jika para peserta didik menunjukan minat dalam begian tertentu. Kemudian guru melanjutkan dengan menguji apa yang ada dalam teks tersebut.
• Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.

4.THE POWER OF TWO $ FOUR ( Menggabung 2 dan 4 kekuatan)
• Terapkan satu masalah /pertanyaan terkait dengan materi pokok (SK/KD/Indikator)
• Beri kesempatan pada peserta untuk berpikir sejenak tentang masalah tersebut.
• Bagikan kertas pada tiap peserta didik untuk menuliskan pemecahan masalah /jawaban (secara mandiri) lalu periksalah hasil kerjanya.
• Perintahkan peserta didik bekerja berpasangan 2 orang dan berdiskusi tentang jawaban masalah tersebut, lalu periksalah hasil kerjanya.
• Peserta didik membuat jawaban baru atas masalah yang disepakati berdua..
• Selanjutnya perintahkan peserta didik bekerja berpasangan 4 orang dan berdiskusi lalu bersepakat mencari jawaban terbaik, lalu periksalah hasil kerjanya.
• Jawaban bisa ditulis dalam kertas atau lainya, dan guru memeriksa dan memastikan setiap kelompok telah menghasilkan kesepakatan terbaiknya menjawab masalah yang dicari.
• Guru mengemukakan penjelasan dan solusi atas permasalahan yang didiskusikan tadi.
• Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.

5. INFORMATION SEARCH (Mencari Informasi)
• Tersedia referensi terkait topik pembelajaran tertentu sesuai SK/KD/Indikator (misalnya : hakikat manusia dalam Islam)
• Guru menyusun kompetensi dari topik tersebut.
• Mampu mengidentifikasi karakter manusia Muslim kaffah.
• Guru membuat pertanyaan untuk memperoleh kompetensi tersebut.
• Carilah ayat dan hadits terkait.
• Bagi kelas dalam kelompok kecil 3 orang)
• Peserta ditugasi mencari bahan diperpustakaan/warnet yang sudah diketahui oleh guru bahwa bahan tersebut benar-benar ada.
• Setelah peserta mencari dan kembali kekelas, guru membantu dengan cara membagi referensi kepada mereka.
• Peserta diminta mencari jawaban dalam referensi tersebut yang dibatasi oleh waktu (mis 10 menit) oleh guru.
• Hasilnya didiskusikan bersama seluruh kelas.
• Guru menjelaskan materi pelajaran terkait dengan topik tersebut.
• Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.
6.POINT-COUNTERPOINT (Beradu pandangan sesuai perspektif)
Langkah-langkah penerapan:
1)Pilih satu topik yang mempunyai dua perspektif(pandangan) atau lebih
2)Bagi kelas menjadi beberapa kelompok sesuai dengan perspektif(pandangan yang ada)
3)Pastikan bahwa masing-masing kelompok duduk pada tempat yang terpisah
4)Mintalah masing-masing kelompok untuk menyiapkan argumen sesuai dengan perspektif kelompoknya
5)Pertemukan kembali masing-masing kelompok dan beri kesempatan untuk memulai berdebat dengan menyampaikan argumen yang disepakati dalam kelompok
6)Undang anggota kelompok yang lain untuk menyampaikan pandangan yang berbeda.
7)Beri klarifikasi atau kesimpulan dengan membandingkan isu-isu yang anda amati.
Tujuan penerapan strategi ini adalah untuk melatih peserta didik agar mencari argumentasi yang kuat dalam memecahkan suatu masalah yang aktual di masyarakat sesuai dengan posisi yang diperankan.

7.READING GUIDE (Bacaan terbimbing)
Langkah-langkah penerapan:
1)Tentukan bacaan yang akan di pelajari
2)Buatlah pertanyaan yang akan dijawab oleh peserta atau kisi-kisi dan boleh juga bagan atau skema
3)Bagikan bahan bacaan dengan pertanyaan atau kisi-kisinya kepada peserta
4)Tugas peserta adalah mempelajari bahan bacaan tersebut dengan menggunakan pertanyaan atau kisi-kisi yang ada.Batasi aktivitas sehingga tidak memakan waktu.
5)Bahas pertanyaan atau kisi-kisi tersebut dengan menanyakan jawaban kepada peserta.
6)Pada akhir pembelajaran,berilah ulasan atau penjelasan secukupnya.
7)Guru melakukan kesimpulan,klarifikasi, dan tindak lanjut.
Tujuan strategi ini adalah membantu pesrta didik lebih mudah dan terfokus dalam memahami suatu materi pokok.

8.ACTIVE DEBATE (Debat aktif)
Langkah-langkah penerapan:
1)Kembangkan suatu pertanyaan yang berkaitan dengan sebuah kasus/isu kontroversial dalam suatu topik yang relevan dengan SK/KD/Indikator.
2)Bagi kelas menjadi dua kelompok; tugaskan mereka pada posisi “pro” dan “kontra”.
3)Minta setiap kelompok untuk menunjuk wakil mereka,dua/tiga orang sebagai juru bicara.
4)Awali “debat” dengan meminta masing-masing juru bicara untuk mengemukakan pandangannya secara bergantian.
5) Juru bicara akan kembali ke kelompok mereka untuk minta pendapat guna mengatur strategi untuk membuat bantahan pada kelompok lainnya.
6)Apabila cukup,hentikan debat (pada puncak perdebatan)dengan menyisakan waktu sebagai follow up dari kasus yang diperdebatkan.
7)Guru melakukan kesimpulan,klarifikasi, dan tindak lanjut.
Tujuannya adalah untuk melatih peserta didik agar mencari argumentasi yang kuat dalam memecahkan suatu masalah yang kontroversial serta memiliki sikap demokratis dan saling menghormati terhadap perbedaan pendapat.

9.INDEX CARD MATCH (Mencari jodoh kartu Tanya jawab)
Langkah-langkah Penerapan:
1)Bualah potongan-potongan kertas sejumlah peserta dalam kelas dan bagi menjadi dua kelompok.
2)Tulis pertanyaan tentang materi yang telah diberikan sebelumnya.Setiap kertas satu pertanyaan.
3)Pada kertas yang lain,tulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.
4)Kocok semua kertas, sehingga soal dan jawaban tercampur.
5)Bagikan setiap peserta satu kertas,jelaskan bahwa ini aktivitas yang berpasangan.
6)Mintalah peserta untuk mencari pasanganya.Jelaskan agar mereka tidak memberikan materi yang mereka dapatkan kepada teman yang lain.
7)Setelah itu,mintalah setiap pasangan secara bergantian membacakan soal yang diperoleh kepada teman yang lainnya.Lalu dijawab oleh pasangannya.
8)Akhiri dengan klarifikasi dan kesimpulan serta tindak lanjut.
Tujuannya adalah untuk melatih peserta didik agar lebih cermat dan lebih kuat pemahamannya terhadap suatu materi pokok.

10. JIGSAW LEARNING (Belajar melalui tukar delegasi antar kelompok)
Langkah-langkah penerapan:
1)Pilih materi pembelajaran yang dapat dibagi menjadi beberapa segmen/bagian.
2)Bagilah peserta menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada.
3)Setiap kelompok mendapat tugas membaca,memahami dan mendiskusikan serta membuat ringkasan materi pembelajaran yang berbeda.
4)Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari dalam kelompoknya.
5)Kembalikan suasana kelas seperti semula,lalu tanyakan apabila ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.
6)Berilah peserta didik pertanyaan untuk mengecek pemahaman mereka.
7)Guru melakukan kesimpulan,klarifikasi dan tindak lanjut.
Tujuan penerapan strategi ini adalah untuk melatih peserta didik agar terbiasa berdiskusi dan bertanggung jawab secara individu untuk membantu memahamkan tentang suatu materi pokok kepada teman sekelasnya.

11. ROLE PLAY (Bermain Peran)
• Menetapkan topik ( konflik interpersonal, antar golongan, perbedaan pendapat/perspektif.. )
• Tunjuk 2 orang siswa/peserta didik maju kedepan untuk memerankan karakter tertentu :10-15 menit.
• Mintalah keduanya untuk bertukar peran.
• Hentikan role play apabila telah mencapai puncak tinggi/dirasa sudah cukup.
• Pada saat kedua siswa/peserta didik memerankan karakter tertentu dimuka kelas, siswa/peserta didik lainya diminta untuk mengamati dan menuliskan tanggapan mereka.
• Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.

12. DEBAT BERANTAI
• Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.
• Masing-masing kelompok ditunjuk koordinator untuk menulis.
• Mereka diberi konsep atau gagasan yang mengundang pro-kontra.
• Masing-masing kelompok memberikan pendapatnya dengan cara : (koordinator mengatur posisi duduk melingkar, setiap anggota kelompok menyampaikan ide setuju dengan alasanya, bergantian anggota yang lain tidak setuju dengan alasanya.
• pada putaran kedua, anggota yang tadi setuju berganti menyampaikan ide tidak setuju disertai alasan, sementara yang tidak setuju berganti menyampaikan setuju disertai alasanya, demikian hingga semua anggota selesai menyampaikan pendapat bebasnya.
• Guru meminta siswa secara suka rela maju kedepan untuk menuliskan alasan yang setuju dan tidak setuju dari masing-masing kelompok tadi.
• Guru menyimpulkan dan melakukan refleksi secara tindak lanjut.

13. LISTENING TEAM (Tim Pendengar)
• Peserta didik dibagi dalam 4 kelompok. Setiap kelompok mempunyai peran dan tugas sendiri-sendiri.
• Kelompok 1 (sebagai kelompok penanya) bertugas membuat pertanyaan yang didasarkan pada materi yang telah disampaikan oleh guru.
• Kelompok 2 (sebagai kelompok setuju) bertugas menyatakan poin-poin mana yang disetujui dan menjelaskan alasanya.
• Kelompok 3 (sebagai kelompok tidak setuju) bertugas mengomentari poin mana yang tidak disetujui dan menjelaskan alasanya.
• Kelompok 4 (sebagai pembuat contoh) bertugas membuat contoh atau aplikasi materi yang baru disampaikan oleh guru.
• Guru menyampaikan materi pelajaran. Setelah selesai, kelompok-kelompok tersebut diberi waktu untuk melaksanakan tugas sesuai dengan yang diterapkan. Tugas guru hanya memberikan pengarahan agar 4 kelompok tersebut mengemukakan tugasnya dengan baik. Selain itu guru juga memberikan komentar jika ada pendapat kelompok yang menyimpang terlalu jauh dari materi pelajaran.
• Guru melakukan klarifikasi, kesimpulan dan tindak lanjut.

14. TEAM QUIS ( Pertanyaan Kelompok)
• Guru memilih topik yang dapat dipresentasikan dalam 3 bagian, misalnya tentang pernikahan dan perceraian dalam Islam.
• Guru membagi peserta didik menjadi 3 kelompok.
• Guru menjelaskan bentuk sesinya dan memulai presentasi. Guru membatasi presentasi sampai 10 menit atau kurang.
• Guru meminta tim A menyiapkan quis yang berjawaban singkat. Quis ini tidak memakan waktu lebih dari 5 menit untuk persiapan. Tim B dan C memanfaatkan waktu untuk meninjau lagi catatan mereka.
• Tim A menguji anggota tim B. jika tim B tidak bisa menjawab tim C diberi kesempatan untuk menjawabnya.
• Tim A melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya kepada anggota tim C dan mengulang proses yang sarna.
• Ketika quis selesai, guru melanjutkan pada bagian kedua pelajaran dan menunjuk tim B sebagai pemimpin quis.
• Setelah tim B menyelesaikan ujian tersebut, guru melanjutkan pada bagian ketiga dan menentukan tim C sebagai pemimpin quis.

15.SMALL GROUP DISCUSSION (Diskusi Kelompok Kecil)
• Bagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil (maksimal 5 murid) dengan menunjuk ketua dan sekretaris.
• Berikan soal studi kasus (yang dipersiapkan oleh guru) sesuai dengan standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD).
• Instruksikan setiap kelompok untuk mendiskusikan jawaban soal tersebut.
• Pastikan setiap anggota kelompok berpartisipasi aktif dalam diskusi.
• Instruksikan setiap kelompok melalui juru bicara yang ditunjuk menyajikan hasil diskusinya dalam forum kelas.
• Klarifikasi, penyimpulan dan tindak lanjut guru.

16. CARD SORT (Menyortir Kartu)
• Guru menyiapkan kartu berisi tentang materi pokok sesuai SK/KD mata pelajaran (catatan : perkirakan jumlah kartu sama dengan jumlah murid dikelas, isi kartu terdiri dari kartu induk/topik utama dan kartu rincian).
• Seluruh kartu dilacak/dikocok agar campur.
• Bagaikan kartu kepada murid dan pastikan masing-masing memperoleh satu (boleh dua).
• Perintahkan setiap murid bergerak mencari kartu induknya dengan mencocokan kepada kawan sekelasnya.
• Setelah kartu induk beserta seluruh rincianya ketemu, perintahkan masing-masing membentuk kelompok dan menempelkan hasilnya dipapan secara urut.
• Lakukan koreksi bersama setelah semua kelompok menempelkan hasilnya.
• Mintalah salah satu penanggung jawab kelompok untuk menjelaskan hasil sortir kartunya, kemudian mintalah komentar dari kelompok lainya.
• Berikan apresiasi setiap hasil kerja murid.
• Lakukan klarifikasi, penyimpulan dan tindak lanjut.

17. GALLERY WALK (Pameran berjalan)
• Peserta dibagi dalam beberapa kelompok
• Kelompok diberi kertas plano/flip cart
• Tentukan topik/tema pelajaran
• Hasil kerja kelompok ditempel di dinding
• Masing-masing kelompok berputar mengamati hasil kerja kelompok lain
• Salah satu wakil kelompok menjelaskan setiap apa yang ditanyakan oleh kelompok lain
• Koreksi bersama-sama
• Klarifikasi dan penyimpulan


18. MUSYKILAT AL-THULLAB (Problematika Murid)
• Guru memberikan potongan kertas kosong kepada siswa agar diisi pertanyaan gramatika yang belum difahami
• Potongan kertas yang telah diisi dengan pertanyaan tadi agar diberikan kepada teman sebelahnya untuk dibaca dan diberi tanda cheklist (v) jika ia ingin mengetahui jawabanya. Jika tidak harus diberikan langsung pada teman berikutnya
• Guru memberikan potongan kertas kosong kepada siswa agar diisi pertanyaan gramatika yang belum difahami
• Potongan kertas yang telah diisi dengan pertanyaan tadi agar diberikan kepada teman sebelahnya untuk dibaca dan diberi tanda cheklist (v) jika ia ingin mengetahui jawabanya. Jika tidak harus diberikan langsung pada teman berikutnya

19. ISTINTAJIYAH (Pengambilan Kesimpulan)
• Guru memberikan contoh-contoh kalimat pola tertentu, misalnya fiil fail dan mubtada’ khabar berikut : (Qala al-ustadzu, jalasa Ahmadu, Al-ustadzu qala, Ahmadu jalasa
• Guru menjelaskan kalimat nomor 1 dan 2 bahwa isim-isim yang digaris bawahi merupakan fail, sedanagkan fiilnya adalah kalimat sebelumnya
• Siswa diminta membandingkan dengan kalimat nomor 3 dan 4 pada kata yang bergaris bawah apakah kedudukanya sama dengan nomor 1 dan 2 atau tidak
• Setelah siswa mengidentifikasi perbedaanya maka dijelaskan bahwa kalimat nomor 3 dan 4 adalah susunan mubtada’khabar
• Untuk memantapkan siswa diberi contoh lain dengan pola yang sama
• Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.

20. MUQARANAT AL-NASH (Perbandingan Teks)
• Guru memberikan teks yang berbeda namun temanya sama, misalnya dari majalah, surat kabar, buku dan lain-lain
• Siswa dibagi beberapa kelompok kecil
• Masing-masing kelompok diminta untuk mencari pembedaan teks-teks diatas pada unsur gramatikanya
• Diskusikan bersama-sama hasil perbandingan yang telah dilakukan siswa bersama-sama secara runtut dan logis
• Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.


(selamat mencoba...)

Micro Teaching

Pembelajaran Mikro (Micro Teaching)

Guru (tenaga pendidik) yang efektif adalah mereka yang berhasil membawa peserta didik mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam pendidikan. Keberhasilan pembelajaran yang efektif memuat dua tolok ukur yakni tercapainya tujuan dan hasil pembelajaran. Untuk mencapai tingkat efektifitas pembelajaran, Gadik harus menguasai berbagai ketrampilan dasar pembelajaran yang meliputi ketrampilan membuka dan menutup proses pembelajaran, ketrampilan menjelaskan, ketrampilan bertanya, ketrampilan menggunakan variasi, ketrampilan memberi penguatan, ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan, ketrampilan mengelola kelas dan ketrampilan membimbing diskusi kecil.
Untuk dapat menguasai berbagai ketrampilan dasar pengajaran dan pembelajaran tersebut maka Gadik perlu berlatih satu demi satu ketrampilan tersebut agar mendalami makna dan strategi penggu-naannya
pada proses pembelajaran. Ketrampilan dasar mengajar dapat diperoleh melalui pembelajaran mikro atau micro teaching. Oleh karena itu pembelajaran mikro sangat diperlukan dalam bentuk peer teaching dengan harapan agar para gadik dapat sekaligus menjadi observer temannya sesama gadik, dengan harapan masing-masing gadik dapat saling memberikan koreksi dan masukan untuk memperbaiki kekurangan penguasaan ketram-pilan dasar dalam mengajar.

Pengajaran mikro telah dipraktikkan secara meluas dalam latihan keguruan di seluruh dunia sejak diperkenalkan di Stanford University oleh Dwight W. Allen, Robert Bush dan Kim Romney pada tahun 1950-an. Untuk dapat memahami micro teaching atau pembelajaran mikro bagi calon guru, dikemukakan beberapa asumsi dasar yaitu:

1. Pada umumnya guru tidak dilahirkan tetapi dibentuk terlebih dahulu.
2. Keberhasilan seseorang menguasai hal-hal yang lebih kompleks ditentukan oleh keberhasilannya menguasai hal-hal yang lebih sederhana sifatnya. Dengan terlebih dahulu menguasai berbagai ketrampilan dasar mengajar, maka akan dapat dilaksanakan kegiatan mengajar secara keseluruhan yang bersifat kompleks.
3. Dengan menyederhanakan situasi latihan maka perhatian dapat dilakukan sepenuhnya kepada pembinaan ketrampilan tertentu yang merupakan komponen kegiatan mengajar.
4. Dalam latihan-latihan yang sangat terbatas, calon guru lebih mudah mengontrol tingkah lakunya jika dibandingkan dengan mengajar secara global yang bersifat kompleks.
5. Dengan penyederhanaan situasi latihan, diharapkan akan memudahkan observasi yang lebih sistematis, obyektif serta pencatatan yang lebih teliti. Hasil dari observasi ini diharapkan dapat digunakan sebagi balikan calon guru tentang kekurangan yang dilakukan dan segera diketahui yang selanjutnya akan diperbaiki pada kesempatan latihan berikutnya.

Merujuk pada beberapa asumsi dasar pengajaran mikro dapat dikemukakan beberapa pengertian pengajaran mikro sebagai berikut:

1. Pengajaran mikro dirumuskan sebagai pengajaran dalam skala kecil atau mikro yang dirancang untuk mengembangkan ketrampilan baru dan memperbaiki ketrampilan yang lama.
2. Pengajaran mikro adalah metode latihan yang dirancang sedemikian rupa dengan jalan mengisolasi bagian-bagian komponen dari proses pengajaran sehingga calon gadik dapat menguasai ketrampilan satu per satu dalam situasi mengajar yang disederhanakan.
3. Micro teaching is effective method of learning to teach, oleh sebab itu micro teaching sama dengan teaching to teach dan atau learning to teach.
4. Mengikut Micheel J Wallace pengajaran mikro merupakan pengajaran yang disederhana-kan. Situasi pengajaran telah dikurangi lingkupnya, tugas guru dipermudah, mata pelajaran dipendekkan dan jumlah peserta didik dikecilkan.

Berpijak pada asumsi dasar dan pengertian pengajaran mikro tersebut, maka dapat disampaikan beberapa ciri pengajaran mikro:

1. Mikro dalam pengajaran mikro berarti pada skala kecil. Skala kecil berkaitan dengan ruang lingkup materi pelajaran, waktu, siswanya dan ketrampilannya.
2. Mikro dalam pengajaran dimak-nai sebagai bagian dari ketrampilan mengajar yang kompleks akan dipelajari lebih mendalam dan teliti bagian demi bagian.
3. Pengajaran mikro adalah pengajaran yang sebenarnya. Calon guru harus membuat persiapan pembelajaran, rencana pem-belajaran, melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat, mengelola kelas dan menyiapkan perangkat pembelajaran lainnya yang dapat mendukung proses belajar dan mengajar (PBM).
4. Pengajaran mikro pada hakekatnya adalah belajar yang sebenarnya. Ditinjau dari praktikan, calon gadik akan belajar bagaimana melakukan pembelajaran sedangkan teman yang jadi siswa akan dapat merasakan bagaimana gaya mengajar temannya dirasakan tepat dan tidaknya strategi pembelajaran yang dibuat.
5. Pengajaran mikro bukanlah simulasi. Dalam situasi mengajar teman sejawat, mereka tidak diperlakukan sebagaimana siswa didik akan tetapi mereka tetap menjadi teman yang sebenarnya dengan kedudukan sebagai siswa. Hal ini untuk menghindari perilaku teman sejawat yang dibuat-buat yang mengakibatkan tidak terkondisikan proses pembelajaran antar teman sejawat.
6. Pengajaran diharapkan dapat direkam sehingga hasil rekaman tersebut dapat dijadikan bahan diskusi antar teman untuk dikoreksi dan diberikan masukan guna perbaikan atas kekurangan praktikan/ calon guru.

Pengajaran mikro bertujuan membekali gadik beberapa ketrampilan dasar mengajar dan pembelajaran. Bagi calon guru metode ini akan memberi pengalaman mengajar yang nyata dan latihan sejumlah ketrampilan dasar mengajar secara terpisah. Sedangkan bagi calon guru dapat mengembangkan ketrampilan dasar mengajarnya sebelum mereka melaksanakan tugas sebagai guru. Memberikan kemungkinan calon guru untuk mendapatkan bermacam ketrampilan dasar mengajar serta memahami kapan dan bagaimana menerapkan dalam program pembelajaran.

Bagi supervisor calon guru, metode ini akan memberikan penyegaran dalam program pendidikan. Tenaga pendidik/guru mendapatkan pengalaman mengajar pada calon tenaga didik yang bersifat individual demi perkembangan profesi.

Ketrampilan dasar mengajar.

Sebagai guru atau calon guru, penguasaan ketrampilan dasar mengajar menjadi salah satu persyaratan utama dalam proses pembelajaran disamping persyaratan yang lain. Ketrampilan dasar yang akan dipelajari adalah:

1. Ketrampilan membuka dan menutup pembelajaran.
Membuka pelajaran merupakan kegiatan guru dalam mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pembelajaran yang meliputi; kondisi menciptakan suasana siap mental peserta didik, menciptakan suasana komunikatif antara gadik dengan peserta didik, menimbulkan perhatian peserta didik kepada apa yang akan dipelajari dalam hal ini dapat diawali dari situasi keseharian peserta didik sampai pada materi yang akan dipelajari serta menumbuhkan motivasi belajar peserta didik.
Menutup pelajaran merupakan kegiatan guru mengakhiri kegiatan inti pengajaran. Dalam mengakhiri pelajaran ini, kegiatan yang dilakukan adalah memberikan gambaran menyeluruh semua materi yang telah dipelajari, mengadakan evaluasi untuk mengetahui tingkat penyerapan siswa terhadap materi dan mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar.

2. Ketrampilan menjelaskan
Dimaknai sebagai ketrampilan guru menyajikan informasi lisan yang diorganisasikan secara sistematis dengan tujuan dapat menunjukkan hubungan antar materi yang telah dikumpulkan dan dikuasai serta disiapkan untuk disajikan. Selain dari itu penekanan memberikan penjelasan merupakan proses penalaran peserta didik dan bukan indoktrinasi. Penyajian informasi secara lisan, terencana, disajikan secara sistematis sesuai materi yang diperlukan dan tingkat kemampuan siswa-siswi.


3. Ketrampilan bertanya
Adalah ucapan guru secara verbal yang meminta respon dari peserta didik. Respon yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Dengan demikian bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir peserta didik. Guru hendaknya trampil dalam bertanya dengan memberikan pertanyaan yang singkat dan jelas serta memenuhi unsur-unsur lain seperti pemberian waktu berfikir, pemindahan giliran kepada peserta didik, pemberian acuan serta pemusatan pertanyaan.

4. Ketrampilan menggunakan variasi mengajar
Diartikan sebagai perbuatan guru dalam konteks proses belajar mengajar yang bertujuan mengatasi kebosanan peserta didik sehingga dalam proses belajar mengajar, peserta didik senantiasa menunjukkan ketekunan, keantusiasan serta berperan serta secara aktif. Ketrampilan yang disyaratkan dalam variasi mengajar antara lain variasi dalam hal gerakan, suara, pemusatan perhatian, pergantian posisi dan memelihara kontak pandang serta variasi dalam penggunaan media.

5. Ketrampilan memberi penguatan
Merupakan tingkah laku guru dalam merespon secara positif suatu tingkah laku tertentu peserta didik yang memungkinkan tingkah laku tersebut terulang kembali. Memberi penguatan bisa dilakukan guru dengan cara verbal (seperti dengan kata-kata dan kalimat tertentu) dan non verbal (seperti dengan mimik, anggukan, senyuman, kegiatan yang menyenangkan murid maupun dengan simbol atau angka)

6. Ketrampilan mengelola kelas
Merupakan ketrampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ke kondisi optimal jika terjadi yang dimungkinkan dapat mengganggu kegiatan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan kegiatan yang dapat mencipatakan suasana belajar yang efektif dan kondusif, antara lain dengan mengorganisasikan kelas, mengendalikan prilaku murid yang menyimpang serta dengan menggerakkan murid kepada pencapaian tujuan belajar.

7. Ketrampilan membimbing diskusi kelompok kecil
Adalah suatu proses yang teratur dengan melibatkan sekelompok peserta didik dalam interaksi tatap muka kooperatif yang optimal dengan tujuan berbagai informasi atau pengalaman mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah.





Skenario Pengajaran Mikro

Skenario pengajaran mikro dibuat dan dirancang langkah demi langkah. Hal ini agar dapat menjadi rambu-rambu dalam pelaksanaannya untuk menghindari dan mengantisipasi hal-hal yang dapat mengganggu jalannya pengajaran mikro. Secara garis besar skenario kegiatan pengajaran mikro dapat dikelompokkan dalam tiga tahapan yaitu:

1. Tahap pertama (tahap kognitif).
Tahap pertama diharapkan praktikan sudah terbimbing memahami dan mendalami serta gambaran secara umum konsep dan makna ketrampilan dasar mengajar dalam proses belajar mengajar, menggunakan secara tepat, mensinergikan ketrampilan satu dan lainnya serta ketepatan kapan dan dalam kondisi yang bagaimana ketrampilan satu dan lainnya digunakan. Selain dari itu diharapkan praktikan dapat mensinergikan pengeta-huan mereka untuk digunakan pada realita pengajaran yang dipadukan dengan ketrampilan dasar mengajar.

2. Tahap kedua (tahap praktik)
Ini diharapkan praktikan secara nyata mempraktekan ketrampilan dasar mengajar secara berulang, dengan harapan jika praktikan sudah berulang kali melakukan praktek akan mengetahui kekurangannya pada ketrampilan yang mereka belajar untuk dikuasai dan terampil menggunakannya dalam proses belajar mengajar. Pada tahapan ini praktikan sudah dapat mempersiapkan perangkat pembelajaran mulai dari RPP, media yang akan digunakan dan segala sesuatu yang dipersyaratkan bagi guru yang profesional di masa mendatang.
3. Tahap ketiga (tahap balikan).
Tahap ketiga ini merupakan kilas balik praktikan dengan mem-pelajari hasil dari observasi teman sejawat yang akan memberikan informasi setelah melihat secara langsung pelaksanaan kegiatan mengajar praktikan. Para rekan sejawat akan memberikan penilaian berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan praktikan yang selanjutnya akan didiskusikan dan sebagai bahan untuk memperbaiki kinerja sebagai gadik yang profesional.
selamat berpraktik..